Menu MBG Tak Layak di konsumsi, ketua BGN diminta Evaluasi Kinerja Pengoala Dapur MBG di Dobo

Dobo, Lepanews.com, — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Aru kembali mendapat sorotan. Sejumlah siswa-siswi SD Negeri 6 Dobo dikabarkan nyaris mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui program MBG. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua siswa dan masyarakat.

Kepada media ini, Sabtu, (22/8/2026) salah satu orang tua murid yang enggan namanya di sebutkan dalam pemberitaan ini menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan nyarisnya siswa-siswi SD 6 Dobo mengalami keracunan yaitu menu yang di sediakan berupa lauk di mana di duga lauk (ikan) yang di konsumsi oleh siswa-siswi sudah tidak layak (rusak dan melek)

” Anak saya tidak menghabiskan makanan yang diterima karena setelah mencicipi ternyata ikannya sudah melek, sehingga muncul rasa gatal pada bagian mulut. Lantaran merasa gatal, kemudian anak saya berhenti makan dan membawa sisa makanan pulang ke rumah. Setelah saya periksa menu tersebut ternyata Ikan yang digunakan merupakan ikan kembung (ikan lema), yang di beli dari Colstor, yang sudah tidak layak di konsumsi.” Tutur orang tua siswa.

Olehnya Dirinya (red orang tua siswa) meminta agar persoalan ini segera mendapat perhatian serius, terutama terkait kualitas makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat.

Akibat kejadian itu, sejumlah orang tua siswa-siswi juga mendesak Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur MBG di Dobo khususnya di lokasi dusun belakang wamar desa Durjela Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru Maluku yang menjadi penyedia makanan bagi siswa-siswi di sejumlah sekolah baik tingkat SD, SMP maupun SMA.

Mereka menegaskan bahwa Evaluasi ini dinilai penting untuk memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga pendistribusian, benar-benar memenuhi standar keamanan pangan.

“Jangan sampai program Pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru menimbulkan masalah kesehatan bagi siswa-siswa. Untuk itu kami meminta kepada ketua BGN segera turun tangan dan melakukan evaluasi,” ujar salah satu sumber dengan tegas yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Selain evaluasi terhadap dapur MBG, sumber berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang diduga menyebabkan siswa mengalami keluhan tersebut. Jika ditemukan adanya pelanggaran standar keamanan pangan, tindakan tegas perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Orang tua siswa juga meminta adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah-sekolah di Kabupaten Kepulauan Aru.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur MBG maupun Badan Gizi Nasional belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kejadian tersebut.(*)

Pos terkait