Bangun Negeri Dengan Gagasan dan Kerja Nyata Untuk Membangun Ketahanan Pangan. ini Kata JR

Lepanews.com, Di pedalaman Pulau Seram, tersembunyi sebuah desa bernama Neniari. Alamnya subur, hijau, dan masih perawan, namun tantangan terbesarnya bukanlah hutan lebat atau medan terjal, melainkan infrastruktur jalan yang nyaris tak layak.

Di tengah kerasnya alam, masyarakat Neniari tidak pernah menyerah. Mereka memiliki semangat yang membara, dipimpin oleh seorang tokoh muda yang visioner, Jodis Rumasoal.

Bacaan Lainnya

Jodis bukan sekadar pemuda biasa. Di usianya yang relatif muda, ia memilih jalan untuk “berperang” bukan dengan senjata, tetapi dengan gagasan dan kerja nyata untuk membangun ketahanan pangan. Bersama kepala desa dan seluruh masyarakat, ia menggerakkan perubahan dari akar rumput. Ia paham bahwa ketahanan pangan adalah hak mutlak yang harus diperjuangkan, tidak bisa hanya menunggu bantuan turun dari atas.

Dengan tekad baja, Jodis merangkul berbagai pihak. Ia duduk berdiskusi dengan para pakar pertanian, kehutanan, dan perkebunan di Provinsi Maluku dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Gubernur, bupati, sekretaris daerah, ketua DPRD, bahkan pihak asing dan para ahli seperti Bapak Mansyur Tuharea (ketua tani SBB) dan Ibu Rita Tuharea yang spesialis pupuk kompos, semua ia ajak bicara. Ia juga menggandeng Kadis Pertanian SBB, Bapak Ibrahim Tuharea, serta pihak lainnya. Diskusi demi diskusi ia lalui, tak kenal lelah.

Hasilnya, ruang lingkup hutan Neniari yang luas dan subur mulai digarap. Lahan seluas 101 hektar disiapkan untuk ditanami padi Gogo dan jagung hibrida sebagai penyangga ketahanan pangan nasional. Tak hanya itu, pangan lokal seperti keladi, labu siam, wortel, kol, kasbi, labu, bawang merah, dan aneka holtikultura lainnya juga ditanam. Jodis sadar, filosofi leluhur tentang lumbung pangan harus dihidupkan kembali. Padi, jagung, dan tanaman lainnya bukan sekadar komoditas, tetapi warisan peradaban yang perlu dilestarikan.

Di bawah koordinasinya, lahan-lahan di desa sekitar pun ikut diberdayakan: 4 hektar di Desa Riring, 2 hektar di Desa Uweth, 2 hektar di Desa Buria, 10 hektar di Desa Neniari Piru, dan 2 hektar di Desa Taniwel. Bersama Dinas Pertanian SBB dan tim penyuluh, ia membentuk 10 kelompok tani di wilayah Taniwel, Taniwel Timur, dan Seram bagian barat. Kelompok-kelompok ini mengelola lahan seluas 10 hektar atas usulan kepala desa setempat.

Di Desa Neniari Gunung sendiri, 10 kelompok tani telah mengelola 15 hektar lahan untuk padi dan jagung yang kini siap panen. Dari target 101 hektar, 20 hektar sudah digarap oleh kelompok tani, sementara 60 hektar lebih dikerjakan oleh organisasi dan setiap keluarga di desa. Semua bergotong royong, bahu-membahu.

Pemerintah Kabupaten SBB dan Provinsi Maluku pun merespons positif. Mereka siap mengirimkan mesin penggilingan padi, mesin pemecah jagung, serta bantuan pupuk dan peralatan lainnya. Jodis optimis, dengan dukungan APBN, APBD, dan APBDes yang mengalokasikan 20% anggaran untuk ketahanan pangan, desa-desa di pegunungan Seram bisa mandiri.

Harapan Jodis sederhana namun besar ketahanan pangan nasional dan lokal bisa memperkuat ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Neniari dan seluruh desa di pegunungan SBB. Ia percaya, perjuangan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan anak cucu.

Di tengah keterbatasan, semangat muda Jodis Rumasoal membuktikan bahwa inovasi dan kerja keras mampu mengubah wajah desa. Perang melawan kelaparan dan ketergantungan pangan dimenangkan dengan cinta pada tanah air dan gotong royong. (*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *