Lepanews.com, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) terus berkomitmen penuh dalam mempercepat penurunan dan pencegahan stunting serta permasalahan gizi buruk balita. Berdasarkan data resmi Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan pada tahun 2025, angka prevalensi stunting di Kabupaten SBB berada di angka 33,8 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten SBB, Gariman Kurniawan, S.Kep., M.Kes., membenarkan rilis data tersebut. Ia menjelaskan bahwa indikator penilaian gizi dilakukan secara komprehensif melalui 92 indikator. Dengan angka 33,8 persen, Kab. SBB berada di peringkat ke-4 tertinggi dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku, sekaligus melebihi rata-rata prevalensi stunting Provinsi Maluku (29,4%) maupun angka nasional (19,8%).
Selain stunting, data SSGI 2024 juga menyoroti kondisi severe wasting (gizi buruk/sangat kurus) di SBB yang mencapai 6,8 persen dan menempati posisi tertinggi kedua di Maluku.
Menanggapi gambaran status gizi balita tersebut, Gariman menegaskan bahwa Bupati SBB, Ir. Asri Arman MT, memberikan perhatian dan komitmen yang sangat tinggi (konsen) untuk melakukan penanganan secara serius dan terukur.
“Bupati SBB, Bapak Ir. Asri Arman MT, sangat konsen terhadap penurunan angka prevalensi stunting dan gizi buruk ini. Karena data SSGI 2024 ini dirilis nasional pada 2025, Pemkab SBB langsung merespons cepat dengan langkah-langkah strategis di lapangan untuk menekan angka tersebut,” tegas Kadis Kesehatan SBB, Gariman Kurniawan.
Strategi Kolaborasi Lintas Sektoral dan Penguatan Layanan Kesehatan Dasar
Gariman menerangkan bahwa intervensi gizi dan penanganan stunting tidak bisa ditumpukan pada Dinas Kesehatan semata. Penganggaran dan program aksi penanganan dijalankan secara terintegrasi bersama berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis lainnya melalui kolaborasi lintas sektoral.
Di tingkat tapak, Dinas Kesehatan SBB telah bergerak cepat melakukan pelacakan aktif serta aksi intervensi dini, salah satunya yang sedang gencar dilaksanakan di wilayah Kecamatan Seram Barat.
“Berbagai tindakan preventif sudah dan sedang kita jalankan. Pemanfaatan fasilitas kesehatan dasar seperti Puskesmas dan Posyandu di setiap desa dioptimalkan sebagai garda terdepan untuk pelacakan, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga edukasi pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita,” tutup Gariman.
Dengan kerja sama lintas sektor yang solid, penguatan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta peran aktif masyarakat, Pemkab SBB optimistis dapat bertahap menekan angka stunting demi mewujudkan generasi SBB yang sehat, kuat, dan berdaya saing. (*

