Lepanews.com, ETI – Suasana Balai Desa Eti, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Rabu (10/7/2026) terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar rapat rutin, melainkan sebuah momentum penting: Rembuk Stunting Tingkat Desa digelar sebagai bentuk komitmen total dalam memerangi stunting.
Dengan semangat gotong royong, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta perwakilan dari delapan dusun—Translok Mata Empat, Resetlemen Pulau Osi, Pelita Jaya, Pulau Osi, Kotania Atas, Kotania Bawah, Jayabakti, dan Lound—duduk bersama membahas masa depan generasi emas.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten SBB, Abraham Tuhenay, yang turun langsung ke lokasi, tak bisa menyembunyikan optimisme. Menurutnya, penanganan stunting bukan lagi sekadar program, melainkan gerakan kolektif yang harus “dikeroyok” oleh semua pihak.
Pemerintah Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat sangat serius menangani persoalan ini. Terutama Ketua TP-PKK Kabupaten Seram Bagian Barat, Ibu Yeni Rosbayani Asri, selaku Duta Stunting, serta Bupati Seram Bagian Barat, Ir. Asri Arman, MT, yang menunjukkan keseriusan luar biasa dalam penanganan stunting.
“Program Pemerintah Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat untuk penanganan stunting benar-benar nyata. Kita bekerja keras untuk mengeroyok stunting di daerah ini. Turun langsung ke lapangan, menyentuh akar masalah, dan memastikan tidak ada satu anak pun yang tertinggal,” tegas Abraham dengan nada bersemangat.
Salah satu sorotan utama dalam rembuk kali ini adalah data kasus stunting di Desa Eti yang mencapai 20 kasus. Angka ini menjadi “lonceng peringatan” sekaligus target utama intervensi.
Abraham menjelaskan bahwa Pemda SBB bersama jajaran terkait telah bergerak cepat. Namun, ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan justru berada di tangan pemerintah desa.
“Langkah-langkah teknis di lapangan sudah kita siapkan. Tinggal bagaimana kepala desa dan seluruh perangkatnya menjalankan tugas dan fungsi itu dengan maksimal. Ini bukan tanggung jawab satu orang, tapi tanggung jawab kita bersama. Sinergi antara desa, kecamatan, dan kabupaten adalah harga mati,” ujarnya.
Sejumlah program intervensi prioritas telah disepakati, antara lain:
Peningkatan Gizi Ibu Hamil melalui suplementasi dan pendampingan.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berkualitas bagi balita gizi kurang.
Pemantauan rutin tumbuh kembang anak melalui posyandu dan kunjungan rumah.
Seluruh program ini dirancang untuk tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga mencegah munculnya kasus stunting baru di masa depan.
Di akhir wawancara, Abraham Tuhenay menyampaikan harapan yang menggugah. Ia ingin langkah-langkah yang telah dimulai ini tidak berhenti di tengah jalan.
“Harapan ke depan untuk stunting ini, saya berharap dalam waktu dekat stunting di daerah ini dapat teratasi. Kami tidak ingin anak-anak di Desa Eti dan Kabupaten Seram Bagian Barat mengalami masa depan yang terganggu hanya karena masalah gizi. Mereka adalah investasi terbesar kita,” tutupnya penuh keyakinan.
Dengan semangat rembuk yang membara dan kolaborasi lintas sektor, Desa Eti kini melangkah optimis. Target bukan lagi sekadar menurunkan angka, tetapi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting di tahun-tahun mendatang. (*








