LepaNews.com, Ambon 16 Des 2025 — Pemerintah Provinsi Maluku memastikan ketersediaan bahan pangan strategis tetap aman hingga 31 Desember, meskipun terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat pada bulan Desember yang bertepatan dengan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta mulai berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku menjelaskan bahwa lonjakan kebutuhan pangan di bulan Desember tidak hanya dipengaruhi oleh program MBG, tetapi juga oleh peningkatan konsumsi rutin masyarakat menjelang HBKN. Secara historis, setiap momentum Natal dan Tahun Baru terjadi kenaikan kebutuhan pangan sekitar 10 persen.
“Tanpa memperhitungkan MBG, kebutuhan beras di Provinsi Maluku hingga 31 Desember 2025 tercatat sekitar 1.200 ton. Untuk minyak goreng, kebutuhannya mencapai 1.447 ton,” jelasnya.
Perhitungan kebutuhan pangan tersebut didasarkan pada konsumsi rumah tangga, kebutuhan sektor usaha seperti hotel, restoran dan katering (horeka), serta tambahan kebutuhan saat HBKN. Sementara pada bulan Ramadan dan Idulfitri, peningkatan konsumsi bahkan dapat mencapai 15 persen.
Untuk memastikan kecukupan pasokan, Pemprov Maluku melakukan neraca pangan dengan membandingkan kebutuhan dan ketersediaan stok yang berasal dari saldo distributor, barang yang beredar di pasar, produksi lokal pertanian, serta rencana pasokan dari luar daerah hingga akhir Desember.
“Sebagian besar pasokan bahan pangan kita memang masih berasal dari luar daerah, seperti beras, bawang merah, bawang putih, ayam dan telur yang masuk dari Makassar dan Surabaya. Namun hingga 31 Desember, neraca pangan kita masih dalam kondisi aman,” ujarnya.
Berdasarkan data yang ada, kebutuhan beras per minggu di Maluku berkisar antara 300 hingga 500 ton. Dengan sisa stok yang tersedia saat ini, Maluku diperkirakan aman hingga dua sampai tiga bulan ke depan. Kondisi serupa juga berlaku untuk bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit yang pasokannya masuk secara rutin setiap tiga hingga empat hari.
Dari sisi harga, menjelang HBKN sebagian besar komoditas pangan strategis berada sedikit di atas harga historis dibandingkan tahun 2022–2024. Namun, dua komoditas yakni bawang merah dan cabai merah justru tercatat berada di bawah harga historis, sehingga relatif lebih stabil bagi masyarakat.
“Harga yang menjadi perhatian dan berpotensi memicu inflasi adalah beras, daging ayam, dan telur ayam, yang saat ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemprov Maluku mencatat bahwa program ini tidak sekadar mengalihkan konsumsi dari rumah tangga ke sekolah, melainkan menciptakan konsumsi baru. Survei awal yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan menunjukkan adanya peningkatan konsumsi sekitar 6,6 persen, dan dalam perkembangannya kini telah melampaui 10 persen, meskipun MBG belum berjalan di seluruh titik.
Saat ini, terdapat 69 dapur MBG yang beroperasi di Maluku, dengan rata-rata kebutuhan beras sekitar 3.000 kilogram per dapur per bulan. Untuk minyak goreng, kebutuhan rata-rata mencapai 393,8 kilogram per dapur per bulan, sehingga penambahan permintaan pangan akibat MBG tergolong signifikan.
Berdasarkan pemantauan pada 21 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari 53 titik yang ada, dengan jumlah peserta antara 2.800 hingga 4.300 siswa, tercatat kebutuhan beras mencapai sekitar 343 ton per bulan dan minyak goreng sekitar 28 ton per bulan.
“Dengan seluruh penambahan kebutuhan tersebut, kami memastikan bahwa hingga 31 Desember ketersediaan bahan pangan di Provinsi Maluku tetap terjamin dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (Rvh)

