LEPANEWS.COM,-PIRU, – Gereja Protestan Maluku (GPM) tidak boleh hanya hadir di mimbar liturgi, tetapi juga harus hadir di kebun, di laut, di pasar, di ruang produksi, dan di ruang keluarga. Demikian penegasan Ketua Sinode GPM, Pdt. S.I. Sapulette, S.Th, M.Si, yang akrab disapa Pdt. Cak, dalam sambutannya pada kegiatan Mimbar Sarasehan Agrobisnis Tanaman Jagung di Klasis GPM Seram Barat, Piru, Senin (18/5/2026).
Memasuki dasawarsa kelima pelayanannya, GPM tengah berada pada fase yang menuntut kehadiran pelayanan yang berkualitas, kontekstual, dan berdampak. Bagi Pdt. Cak, perbincangan tentang agrobisnis jagung bukanlah sekadar urusan tanam-menanam atau soal pendapatan uang semata. “Ini adalah bagian dari panggilan iman,” tegasnya.
Ekonomi Jemaat: Mengelola Anugerah,
Dalam perspektif teologi ekonomi Allah, manusia diberi mandat untuk mengelola ciptaan secara bertanggung jawab, hadir, dan berkelanjutan. Karena itu, tanah, laut, hutan, kebun, ternak, dan seluruh potensi alam bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan anugerah Allah yang harus dikelola untuk kehidupan bersama.
“Ketika kita berbicara tentang agrobisnis jagung, sesungguhnya kita berbicara tentang spiritualitas kerja, tentang kesetiaan mengelola potensi sumber daya yang adalah anugerah Tuhan. Juga tentang kemandirian keluarga dan diakonia transformatif yang membebaskan umat dari ketergantungan,” ujar Pdt. Cak.
Pdt. Cak mengapresiasi Klasis Seram Barat dan Komisi Pemberdayaan Umat yang menggagas sarasehan ini.
Menurutnya, jagung adalah komoditas pangan penting yang mudah dibudidayakan, permintaan pasarnya terus meningkat, dan menjadi bahan baku pangan, pakan ternak, hingga bioenergi.
“Kebutuhan jagung untuk industri, makanan, dan pakan ternak di Maluku masih banyak didatangkan dari luar daerah. Ini peluang besar yang harus ditangkap oleh jemaat-jemaat kita,” jelasnya.
Secara internal, Klasis Seram Barat memiliki potensi kuat. Banyak jemaat pesisir yang juga bergerak di sektor pertanian dan perkebunan. Data menunjukkan sektor pertanian masih dominan. “Potensi ini tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. Harus diorganisir, didampingi, diberi pengetahuan, akses benih, pasar, dan didukung manajemen usaha yang baik,” tambahnya.
Pdt. Cak mengingatkan bahwa sarasehan bukan sekedar diskusi ini harus menjadi pintu masuk bagi proses yang lebih panjang: sosialisasi, penyiapan lahan, pembenihan, musim tanam, pemeliharaan, panen, pascapanen, pemasaran, hingga evaluasi. “Kegiatan ini tidak boleh berhenti pada percakapan. Dia harus bergerak menjadi aksi,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Ketua Sinode merumuskan lima arah nyata bagi pengembangan ekonomi jemaat: sesuai dengan Dasawarsa Kelima GPM
Dimulai dari Keluarga. Keluarga adalah Ecclesia Domestica – gereja rumah tangga. Gerakan keluarga menanam, melaut, beternak, dan memasarkan harus menjadi gerakan iman, bukan sekadar program musiman.
Kelola Agrobisnis Secara Serius. Perlu dihitung luas lahan, ketersediaan benih, pola tanam, pupuk, pendampingan, alat pascapanen, dan yang terpenting: kepastian pasar. “Jangan sampai jemaat didorong menanam, lalu dibiarkan sendiri sampai pemasaran.”
Gereja sebagai Fasilitator dan Pendamping. Gereja tidak menggantikan petani, tetapi membuka jalan, membangun jejaring dengan pemerintah, dinas teknis, lembaga keuangan, pelaku pasar, dan mitra strategis.
Ekonomi dengan Etika Kristen. Gereja menolak cara-cara eksploitatif yang merusak alam dan mengabaikan orang kecil. Ekonomi yang dikembangkan harus jujur, adil, transparan, saling menopang, dan menjaga keberlanjutan alam.
Manfaatkan Teknologi. Pemasaran hasil jagung dan produk turunannya tidak boleh bergantung pada pola lama. Jemaat perlu dikenalkan dengan pemasaran digital, jejaring pembeli, dan kerja sama dengan marketplace.
Bingkai Besar Panggilan GPM: Berbuah dalam Anugerah Allah
Sebagai pimpinan Sinode, Pdt. Cak menempatkan kegiatan ini dalam bingkai misi GPM periode 2026–2030, yaitu mewujudkan iman yang dewasa, pelayanan berkualitas, keluarga tangguh, jemaat mandiri, dan masyarakat sejahtera.
“Kita tidak boleh membiarkan kemiskinan menjadi nasib yang diterima begitu saja. Kita tidak boleh membiarkan potensi tanah dan tenaga keluarga jemaat tidak terkelola. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda menjauh dari kerja produktif. Kita harus membangun etos kerja, disiplin, kreativitas, keberanian berusaha, dan solidaritas,” pesannya.
Ia berharap sarasehan ini melahirkan tata cara pemberdayaan yang lengkap bagi Klasis GPM Seram Barat: bukan hanya daftar rencana yang baik, tetapi kerja yang terukur, jelas siapa melakukan apa, kapan dimulai, lahan mana yang disiapkan, bagaimana pendampingan, panen, hingga pemasaran.
“GPM memiliki basis keluarga, jemaat, klasis, dan jaringan pelayanan yang luas. Bila potensi ini disinergikan dengan program pemerintah, maka pemberdayaan ekonomi umat dapat memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan, penurunan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Pdt. Cak. (**)








