Lepanews.com, 22 Juni 2026 – Isak tangis pilu masih terdengar di keheningan pagi di Desa Taniwel. Namun, bukan hanya kepergian almarhumah Ibu Balandina Tibalimeten yang membuat duka, melainkan juga perjuangan heroik yang harus dilakukan oleh puluhan warga untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir. Dalam sebuah pemandangan yang memilukan, warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), bahu-membahu memikul peti jenazah di tengah keterbatasan akses jalan sejauh 4 kilometer.
Ibu Balandina, yang menghembuskan nafas terakhir pada Jumat (18/5/2026) dini hari sekitar pukul 05.00 WIT di rumah duka di Desa Taniwel karena sakit yang dideritanya, harus menjalani perjalanan terakhir yang berat. Karena tidak ada satu pun kendaraan roda empat yang bisa menembus medan pegunungan menuju kampung halamannya di Lohia Sapalewa, para lelaki desa dengan gagah berani menggotong peti jenazah melewati jalan setapak berlumpur dan berbatu.
Prosesi pemakaman yang dijadwalkan pada hari ini, Sabtu (19/5/2026), mengharuskan jenazah untuk dibawa pulang. Pada Jumat sore, sekitar pukul 18.00 WIT, rombongan pemikul mulai berangkat. Dengan kondisi jalan yang ekstrim, mereka bergantian memanggul peti sejauh kurang lebih 4 kilometer. Butuh waktu berjam-jam bagi mereka untuk tiba di desa, karena medan yang terjal hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
“Inilah hidup kami sehari-hari. Bukan hanya untuk kematian, untuk orang sakit pun kami harus gotong royong. Tidak ada ambulans, tidak ada mobil yang bisa lewat. Semua kami lakukan dengan bahu membahu,” tutur salah seorang warga dengan suara bergetar sambil terus melangkah.
Harapan dari Tengah Keterbatasan
Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, dengan nada lirih namun penuh harap menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia mengakui bahwa warganya hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada, namun ia berharap suara mereka didengar oleh pemerintah.
“Kami hanya bisa pasrah dan berharap kepada Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, dan Pemerintah Pusat. Lihatlah kondisi kami. Akses jalan yang hanya 4 kilometer ini adalah tembok penghalang utama bagi kemajuan kami. Setiap ada warga sakit, kelahiran, atau bahkan kematian, kami harus menggotong segala sesuatunya. Ini sangat memperihatinkan,” ujar Thomas Soriale dengan mata berkaca-kaca.
Desa Lohia Sapalewa adalah salah satu dari sekian banyak desa di kawasan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Kabupaten Seram Bagian Barat. Ironisnya, di era modern ini, masyarakat masih hidup dalam isolasi. Ketidakmampuan akses kendaraan roda empat membuat segala aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan menjadi hambatan besar. Sembako yang masuk harus diangkut manual, anak-anak harus berjalan kaki berjam-jam untuk sekolah, dan ketika sakit, nyawa menjadi taruhannya.
Seruan untuk Perhatian Serius
Kisah memilukan ini mengingatkan kita pada masih banyaknya saudara-saudara kita di pedalaman yang kesulitan menikmati pembangunan yang adil. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan tidak hanya mendengar, tetapi segera bertindak.
Sudah saatnya pembangunan infrastruktur tidak hanya terpusat di kota. Membangun jalan bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi soal menghubungkan kehidupan, menyelamatkan nyawa, dan memberikan martabat bagi setiap warga negara. Ini adalah jeritan hati masyarakat Lohia Sapalewa kepada para pengambil kebijakan di Ambon, Jakarta, dan seluruh Indonesia.
Kami tidak ingin mati dan sakit harus semewah ini? Tidak. Kami hanya ingin hidup yang layak,” pungkas Thomas Soriale. (*

