Petani Cengkeh Maluku Kini Punya “Matahari Sendiri”: Teknologi Pengering Ramah Lingkungan Hadir di Desa Kamarian

Lepanews.com, Kabar gembira bagi para petani cengkeh di Maluku. Sebuah terobosan teknologi tepat guna hadir untuk menjawab tantangan pengeringan cengkeh yang selama ini menjadi momok. Tim Pengabdian Masyarakat (PM) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon berhasil membangun dan menyerahkan tujuh unit pengering cengkeh berbasis energi matahari di Desa Kamarian, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku.

Inovasi ini menjadi angin segar bagi petani di desa yang dikenal sebagai salah satu lumbung rempah di Maluku ini. Provinsi Maluku sendiri merupakan kontributor terbesar produksi cengkeh nasional, mencapai 15,37%. Namun, selama ini para petani masih bergelut dengan metode pengeringan tradisional yang memiliki banyak kelemahan.

Mengatasi Masalah Klasik Pengeringan

Selama ini, petani mengandalkan penjemuran di bawah sinar matahari langsung dengan alas terpal atau lantai beton. Proses ini memakan waktu 3-5 hari di musim kemarau dan bisa lebih lama saat musim hujan. Selain tidak efisien, metode ini juga rentan terhadap kontaminasi debu dan kotoran, sehingga menurunkan kualitas dan nilai jual cengkeh.

“Proses pengeringan yang tidak merata dan tergantung cuaca seringkali membuat kadar air cengkeh tidak ideal, yaitu maksimal 14 persen. Akibatnya, kualitas cengkeh yang dipasarkan tidak maksimal,” ungkap salah satu petani setempat.

Teknologi Sederhana, Dampak Besar

Pengering surya yang dibangun tim ahli ini menawarkan solusi cerdas dengan biaya yang sangat terjangkau. Berbeda dengan rumah kaca atau greenhouse yang mahal, alat ini dapat dibuat dengan material yang mudah ditemukan di sekitar warga, seperti kayu atau bambu untuk rangka, serta triplek, seng, atau kain bekas yang dicat hitam untuk menyerap panas.

“Suhu panas yang dihasilkan lebih merata dan higienis, sehingga cengkeh kering memiliki warna dan kadar air seragam tanpa risiko terkontaminasi debu,” jelas Prof. Ari Widyanti, Ketua Tim Pengabdian dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB.

Tim yang dipimpinnya, bersama Intan Taufik, Ph.D. dari SITH ITB, serta Prof. Wilma Latuny, David Tuhurima, S.Pd., M.Pd., dan Victor Lawalata, ST., MT dari Universitas Pattimura, tidak hanya membangun alat tetapi juga memberikan pendampingan penuh .

Tujuh Pengering untuk Seluruh Desa

Sebanyak tujuh unit pengering diberikan dengan rincian: satu unit untuk masing-masing enam dusun, dan satu unit khusus untuk pihak desa. Ketua Tim, Prof. Ari Widyanti, berharap alat ini dapat digunakan secara bergilir atau menjadi percontohan bagi masyarakat untuk mengembangkannya sendiri .

Tidak hanya itu, dalam kegiatan sosialisasi yang dihadiri sekitar 30 orang, mulai dari kepala desa hingga petani, tim juga memberikan alat pengukur kadar air (moisture meter). Alat ini sangat penting untuk memantau kadar air cengkeh secara akurat, memastikan kualitas terbaik sebelum dipasarkan .

Kemandirian Energi dan Ekonomi

Pengering ini memanfaatkan energi surya yang gratis dan melimpah di Maluku. Hal ini secara signifikan memangkas biaya bahan bakar atau listrik, menciptakan kemandirian energi bagi petani .

Lebih dari itu, dampaknya terhadap ekonomi sangat terasa. “Kenaikan pendapatan petani menjadi tujuan utama kami karena kualitas cengkeh kering yang terjaga akan meningkatkan nilai jual di pasaran,” tambah Prof. Ari.

Diversifikasi dan Solusi Pemasaran

Tim juga memberikan pelatihan mengenai diversifikasi dan packaging cengkeh agar lebih bernilai jual. Sosialisasi mengenai Sistem Resi Gudang (SRG) juga disampaikan sebagai langkah strategis. Sistem ini diharapkan dapat memotong rantai tengkulak atau pengepul yang kerap merugikan petani, memberikan alternatif pembiayaan, dan menjaga stabilitas harga komoditas.

Dengan adanya terobosan ini, petani cengkeh di Desa Kamarian dan sekitarnya kini memiliki “matahari sendiri” yang siap membantu mereka meningkatkan kualitas hasil panen, efisiensi waktu, dan pada akhirnya, kesejahteraan ekonomi. (*)

Pos terkait