LEPANEWS.COM, PIRU,- Kabut tipis masih menyelimuti pegunungan Desa Ahiolo-Abio, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat, saat rombongan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) SBB tiba. Di balik rintik hujan yang belum reda, wajah-wajah penuh harap warga desa menyambut kedatangan mereka. Bukan kunjungan biasa — hari itu, negara benar-benar hadir di tengah pelosok, membawa pelayanan administrasi kependudukan yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.
Dengan semangat program “Jebol Adminduk” (Jemput Bola Administrasi Kependudukan), Dinas Dukcapil SBB menembus medan berat dan cuaca tak bersahabat demi satu tujuan: memberikan akses dokumen kependudukan kepada warga yang tinggal di wilayah terpencil.
“Perjalanan kami memang cukup melelahkan karena kondisi jalan yang rusak dan jarak yang cukup jauh. Tapi melihat senyum bahagia masyarakat yang akhirnya bisa memiliki dokumen kependudukan lengkap tanpa harus pergi ke kota kabupaten, menjadi semangat tersendiri bagi saya dan seluruh staf,” ungkap Kepala Dinas Dukcapil SBB, Julis Nahuway, di sela-sela pelayanan.
Bukan Sekadar Dokumen
Bagi masyarakat perkotaan, KTP, KK, atau akta kelahiran mungkin hal biasa. Namun di Ahiolo-Abio, dokumen-dokumen itu adalah akses menuju berbagai layanan dasar — pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, hingga hak suara dalam pemilu. Tanpa dokumen resmi, banyak warga yang selama ini seakan “tak terlihat” oleh sistem negara.
“Ini bukan sekadar pelayanan, tapi bentuk nyata kehadiran negara untuk semua warga, tanpa terkecuali,” ujar Nahuway dengan tegas.
Dalam pelayanan yang dilakukan langsung di balai desa tersebut, warga bisa melakukan perekaman data e-KTP, pengurusan Kartu Keluarga, akta kelahiran, hingga pencetakan dokumen di tempat. Tidak perlu menempuh perjalanan puluhan kilometer ke pusat kabupaten, cukup datang ke lokasi yang telah disiapkan di desa.
Menghadirkan Keadilan Hingga ke Pelosok
Desa Ahiolo-Abio adalah satu dari sekian banyak desa di Seram Bagian Barat yang sulit dijangkau karena infrastruktur jalan yang minim dan medan geografis yang menantang. Untuk mencapai desa ini, tim Dukcapil harus menyeberangi sungai yang meluap dan melintasi jalan berlumpur di tengah hujan deras. Tapi semangat mereka tidak surut.
“Ini adalah wujud pelayanan publik yang berkeadilan,” tambah Nahuway. “Semua warga berhak merasakan kemudahan pelayanan, tak peduli sejauh apa mereka dari pusat pemerintahan.”
Program Jebol Adminduk memang dirancang untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat, bukan sebaliknya. Ini sejalan dengan semangat reformasi birokrasi dan pemerataan pelayanan publik yang digaungkan pemerintah pusat dan daerah.
Harapan Baru dari Pegunungan Seram
Bagi masyarakat Ahiolo-Abio, kedatangan tim Dukcapil membawa harapan baru. Seorang warga lansia, ibu Marnie Tuharea (62), mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa mendapatkan akta kelahiran cucunya.
“Beta su tua, seng mungkin lagi pigi kota urus dokumen. Tapi sekarang, semua datang sendiri di desa. Terima kasih banyak,” ucapnya sambil menahan haru.
Tak hanya lansia, anak-anak muda dan para ibu rumah tangga juga tampak antusias menunggu giliran. Mereka tahu, hari itu bukan sekadar pelayanan — tapi tonggak penting dalam perjalanan hidup mereka sebagai warga negara yang diakui secara hukum.
Dengan keberhasilan pelayanan di Ahiolo-Abio, Dinas Dukcapil SBB berkomitmen untuk terus melanjutkan misi ini ke desa-desa lain yang selama ini belum tersentuh pelayanan maksimal.
Karena bagi mereka, pelayanan publik bukan hanya soal administrasi. Ia adalah soal keadilan, keberpihakan, dan memastikan bahwa tak ada satu pun warga yang ditinggalkan. (*

